BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pada era teknologi seperti sekarang ini, sistem informasi sangat dibutuhkan oleh setiap lembaga yang memiliki keunggulan kompetitif, hal ini sangat mempengaruhi dunia bisnis dalam pengambilan keputusan yang cepat, tepat dan akurat untuk mengurangi kesalahan yang disebabkan karena perkembangan teknologi, dapat mengubah pola pikir seorang pimpinan untuk mempermudah dalam pengambilan keputusan dengan tepat waktu yang cukup singkat. Proses untuk menentukan Pemberian Kredit Pensiun di Bank BTPN dengan menggunakan cara manual dan membutuhkan ingatan yang kuat serta ketelitian seorang pimpinan, tentu dapat membuat seorang pimpinan stress berat. Cara yang biasa dilakukan untuk mewujudkan pola pikir seorang pimpinan tersebut adalah dengan cara menggunakan alat bantu komputer yang memiliki sistem yang mendukung pola pikir seorang pimpinan.
PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) Bireuen merupakan salah satu kantor cabang pembantu yang menyelenggarakan pelayanan perbankan berupa produk tabungan dan produk pensiun. Sebagai kantor cabang pembantu yang berorientasi pada layanan dan produk pensiun banyak sistem dan prosedur yang terdapat didalamnya, antara lain : sistem pembayaran uang pensiun bulanan, sistem pembayaran Tunjangan Hari Tua (THT), sistem take over (pelunasan kredit pensiun di lembaga perbankan lainnya), dan sistem pemberian kredit pensiun.
Salah satu sistem yang terdapat pada BTPN Bireuen adalah sistem pemberian kredit pensiun. Pemberian kredit pensiun diperuntukan bagi mereka pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pensiunan Telkom, Pensiunan Perhutani, Pensiunan Pertamina, dan Pensiunan ABRI. Para pensiunan yang habis masa kerjanya memperoleh Surat Keputusan Pensiun (SKEP) yang keberadaannya sejajar dengan SK pengangkatan pegawai negeri yang dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh kredit pensiun. Walaupun demikian, tidak semua lembaga perbankan di Indonesia dapat menerima SK Pensiun sebagai jaminan dalam memperoleh kredit pensiun. Salah satu lembaga perbankan yang dapat menerima SK Pensiun sebagai jaminan kredit pensiun adalah BTPN Bireuen.
Proses penilaian masing-masing kriteria pengambil kredit pensiun di Bank BTPN Bireuen, dalam hal membuat keputusan yang spesifik untuk memecahkan permasalahan masih memiliki kekurangan, khususnya untuk penilaian data kreditur. Oleh karena itu Sistem Penunjang Keputusan salah satu komponen yang cukup penting dalam sistem informasi dibuat sebagai suatu cara untuk memenuhi kebutuhan. Dengan permasalahan tersebut maka, perlu adanya solusi pemecahan masalah yang ada dengan membuat suatu sistem pendukung keputusan tujuan utama dari SPK adalah adalah membantu dalam proses pengambilan keputusan adalah untuk meningkatkan kemampuanya dalam memutuskan masalah.
Dalam hal ini penulis membuat program aplikasi dengan judul “Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) menggunakan Simple Additive Weighting (SAW)”

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang timbul dalam pengerjaan proyek akhir ini adalah :
1.Bagaimana sistem dan prosedur pemberian kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) Bireuen ?
2.Bagaimana cara mengimplementasikan metode Simple Additive Weighting (SAW) ke dalam sistem pendukung keputusan ?

1.3.Batasan Masalah
Dengan mengingat begitu besar lingkup yang akan di teliti, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Kriteria yang digunakan dalam Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Pensiunan adalah Usia, Kelengkapan Berkas, Dana Pensiun, dan Jumlah Pinjaman Kredit.
2.Aplikasi dirancang menggunakan Bahasa Pemograman PHP  dan MySql
3.Dalam pembuatan aplikasi ini, mengambil study kasus di PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) Bireuen
4.Output yang dihasilkan berupa hasil perangkingan data kelayakan pemberian kredit.

1.4.Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah membangun sebuah sistem baru yang lebih tepat dan akurat dalam pengambilan keputusan yang diharapkan mampu:
1.Memberikan informasi secara lengkap dan aktual khususnya mengenai pemberian kredit pensiun
2.Memudahakan pihak Bank dalam melakukan penentuan pemberian kredit pensiun

1.5. Manfaat Penelitian
1.Mempermudah pihak bank dalam melakukan prosedur pemberian kredit pensiun
2.Menambah wawasan dan pemahaman tentang pembuatan penilitian khususnya yang berhubungan dengan kredit pensiun

1.6. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir adalah :
1.Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengetahui masalah yang timbul atau dialami langsung oleh yang bersangkutan. Dalam kegiatan ini diajukan pertanyaan lisan dan usaha untuk melengkapi data – data yang akan diperoleh. Wawancara dilakukan pada bagian – bagian yang terkait dengan sistem pengolahan nilai.
2.Observasi.
Penulis melakukan observasi yaitu dengan melihat secara langsung cara kerja bagian yang terkait dengan pencatatan hasil-hasil kegiatan yang dilakukan.

3.Studi pustaka
Penulis mencari dan mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dan mencakup perancangan sistem ini, buku-buku yang ada diperpustakaan kampus, catatan kuliah, serta dokumen-dokumen yang didapat universitas Almuslim yang mempunyai hubungan dengan perancangan sistem ini.
4.Metode Pengembangan Perangkat Lunak.
Teknik analisis data dalam pembuatan perangkat lunak menggunakan paradigma perangkat lunak secara waterfall (Pressman 2010), yang meliputi beberapa proses diantaranya:
1.Rekayasa sistem dan analisis
Menetapkan semua data yang akan digunakan dalam membangun aplikasi sistem pendukung keputusan pemberian kredit pensiun.
2.Analisis kebutuhan perangkat lunak
Setelah menetapkan data yang dibutuhkan kemudian dianalisa untuk pembuatan aplikasi sistem pendukung keputusan pemberian kredit pensiun.
3.Perancangan
Data yang telah dianalisa kemudian didesain menjadi sebuah aplikasi perangkat lunak yang mudah digunakan untuk pemberian kredit pensiun.
4.Pembuatan
Aplikasi yang telah dirancang kemudian diberikan coding untuk menjalankan sitem yang telah dirancang.
5.Pengujian
Aplikasi yang telah didesai dan diberikan coding kemudian di lakukan pengujian apa sudah sesuai dengan yang diharapkan.
6.Perawatan
Tahap ini merupakan tahap akhir dimana perangkat lunak yang telah selesai diimplementasikan dapat terjadi perubahan-perubahan atau penambahan-penambahan yang disesuaikan dengan keinginan user.

1.7. Sistematika Penulisan
Dalam melakukan penulisan ilmiah ini terbagi menjadi beberapa bab berdasarkan pembahasannya masing-masing, sistematika penulisan terdiri dari 7 bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Pokok bahasan meliputi latar belakang permasalahan, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pokok bahasan menguraikan teori-teori yang mendasari pembahasan secara detail, dapat berupa definisi -definisi atau model yang langsung berkaitan dengan ilmu atau masalah yang diteliti.
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
Bab ini menguraikan tentang analisis terhadap permasalahan yang terdapat di kasus yang sedang di teliti. Meliputi analisis terhadap masalah sistem yang sedang berjalan, analisis hasil solusinya, analisis kebutuhan terhadap system yang di usulkan, analisis kelayakan sistem yang di usulkan. Perancangan sistem berisikan model-model penyelesaian masalah sistem lama dengan membuat rancangan untuk sistem baru yang diusulkan.
BAB IV IMPLEMENTASI
Bagian ini berisi penjelasan tentang lingkungan implemetasi (OS, perangkat keras dan bahasa pemrograman yang digunakan), file-file implementasi analisa dan perancangan sistem dari masing-masing modul atau klas (relasinya) serta algoritma yang diimplementasikan.
BAB V PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
Untuk kategori topik pengembangan perangkat lunak (dimana perangkat lunak sebagai produk utama/akhir), maka bagian ini berisi penjelasan tentang strategi pengujian (unit, integrasi dan validasi) dan teknik pengujian (black box atau white box) yang dilakukan. Dijelaskan juga seluruh kasus uji beserta hasil pengujiannya. Di dalam penjelasan setiap kasus uji harus dimasukkan antara lain tujuan, data masukan, prosedur uji dan hasil yang diharapkan.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan memuat secara singkat dan jelas tentang hasil penelitian yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Kesimpulan didasarkan atas pengujian dan analisis yang dilakukan di dalam proses penelitian. Kesimpulan harus memiliki korelasi dengan rumusan masalah. Saran digunakan untuk menyampaikan masalah yang dimungkinkan untuk penelitian lebih lanjut. Saran berisi hal-hal yang diperlukan dalam rangka pengembangan topik skripsi selanjutnya maupun perbaikan yang harus dilakukan sesuai dengan kesimpulan yang didapatkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka mempunyai arti peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait (review of related literature). Sesuai dengan arti tersebut, suatu tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan penelitian, dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan tidak selalu harus tepat identik dengan tenderg permasalahan yang dihadapi tetapi termasuk pula yang seiring dan berkaitan (collateral). Fungsi peninjauan kembali pustaka yang berkaitan merupakan hal yang mendasar dalam penelitian.

2.1.1 Penelitian Terkait
Harini (2007), Rancang Bangun Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Pemenang Tender Proyek Kereta Api Menggunakan Metode Promethee (studi kasus PT. Kereta Api Indonesia DAOP 8 Surabaya). Sistem Pendukung Keputusan pemilihan pemenang tender proyek kereta api mampu menghasilkan pemenang tender terbaik sesuai dengan perhitungan metode promethee.
Suhermin (2009), Sistem Informasi Keputusan Tender Proyek Di Kabupaten Bangkalan Menggunakan Accord Model. Metode Accord dapat digunakan untuk menentukan pemenang tender karena pada perhitungannya melibatkan faktor knowledge dan faktor confidence tim pengambil keputusan yang di proses dengan keputusan individu dan keputusan tim sehingga menghasilkan keputusan yang terbaik.
Putra (2010), Sistem Pendukung Keputusan Jasa Konsultan Pada Tender Survey Kondisi Jalan (Paket 1) Pada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Palembang. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari tahap penelitian sampai dengan tahap pengujian, maka dapat disimpulkan bahwa: Sistem Pendukung Keputusan berbasis web, mempermudah konsultan karena di Web terdapat Menu Administrasi ,penilaian teknis, penawaran dan Pemenang Tender dan Sistem Pendukung Keputusan sebagai Alternatif solusi untuk penentuan pemenang tender.
Jumadi (2010), Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Kontraktor Pemenang Tender Dengan Metode AHP (Studi Kasus PT. Chevron Pacific Indonesia). Dari hasil dan pengujian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa aplikasi Perhitungan Kontraktor Pemenang Tender ini dapat digunakan untuk menghitung nilai kontraktor pemenang Tender dengan metode AHP, hal ini diperoleh dari hasil survey survey yang telah dilakukan.
Sahputra (2011), Sistem Penunjang Keputusan Pemenang Tender Proyek Menggunakan Metode Analityc Hierarchy Process (Ahp) Pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Aceh Selatan. Sistem Penunjang Keputusan Pemenang Tender Proyek menggunakan metode AHP pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Aceh Selatan dalam proses pemilihan pemenang tender proyek maka akan terdapat beberapa keuntungan dan dapat mengatasi masalah yang mungkin akan ditimbulkan selama proses pemilihan pemenang tender proyek yaitu: evaluasi penawaran dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan akan memperkecil tingkat kesalahan dalam proses evaluasi, sehingga didapatkan hasil yang akurat dan hasil yang diinginkan juga dapat dilihat setiap waktu dengan cepat kapanpun dibutuhkan dan penyimpanan data terjamin.
Nugraha (2012), Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Pemilihan Pemenang Pengadaan Aset dengan Metode Simple Additive Weighting (SAW). Metode Simple Additive Weighting (SAW) digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam proses evaluasi alternatif pemilihan pemenang pengadaan aset terutama dalam proses perangkingan berdasarkan kriteria-kriteria telah ditentukan sehingga dapat memberikan rekomendasi evaluasi pemilihan pemenang pengadaan aset yang lebih objektif karena dapat dilakukan pembobotan terhadap kriteria yang telah ditentukan.
Monita (2013), Sistem Pendukung Keputusan Penerima Bantuan Langsung Tunai Dengan Menggunakan Metode Analytical Hierarcy Process. Dengan menggunakan metode Analytical Hierarcy Process, dapat dibangun sebuah sistem pendukung keputusan dengan membandingkan inputan kategori penilaian dan bobot rasio yang sudah ditentukan sebelumnya.
Sari (2014), Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Pemenang Tender Untuk Jasa Konsultan Menggunakan Metode Simple Adaktif Waiting (Saw). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan aplikasi yang dirancang dapat digunakan untuk membantu menentukan Pemenang Tender Untuk Jasa Konsultan.

2.2Sistem Pemberian Kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN)
Berikut ini adalah evaluasi sistem pemberian kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN).
1.Fungsi yang terkait
Dalam sistem pemberian kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) sudah terdapat pemisahan fungsi yang tegas antara fungsi operasi, fungsi pencatatan, dan fungsi penyimpanan. Fungsi operasi dijalankan oleh fungsi sekretariat, fungsi perhitungan, fungsi pembukaan nomor customer, fungsi pemeriksa intern dan fungsi akuntansi. Fungsi sekretariat dilaksanakan oleh Credit Acc. Officer dan Credit Admin Officer bertugas menerima permohonan kredit pensiun, memeriksa kelengkapan dokumen persyaratan kredit pensiun, membuat dan mencetak dokumen Surat Perjanjian Kredit (SPK), serta menginput data pinjaman kredit pensiun sebagai laporan harian hasil penyaluran  kredit  pensiun  kepada  kantor  cabang  Surakarta.  Fungsi perhitungan dilaksanakan oleh Credit Acc. SPV bertugas melakukan simulasi/perhitungan kredit pensiun. Fungsi pembukaan nomor customer dilaksanakan oleh Customer Service bertugas melaksanakan pembukaan nomor customer untuk debitur yang mengajukan kredit pensiun. Fungsi pemeriksa  intern  dilaksanakan  oleh  Sub  Branch  Manager  bertugas memeriksa dan mentandatangani dokumen Surat Perjanjian Kredit (SPK).
 Fungsi akuntansi dilaksanakan oleh Accounting Officer bertugas menyetor uang tunai kepada Teller dan menyimpan dokumen Surat Perjanjian Kredit (SPK) sebagai arsip, jika ada pemeriksaan dari kantor cabang Surakarta.
Fungsi pencatatan dijalankan oleh fungsi penyimpanan. Fungsi penyimpanan dilaksanakan oleh Sales and Marketing Officer bertugas mencatat secara manual dalam buku hasil penyaluran kredit pensiun dan menyimpan dokumen kredit pensiun dalam brankas. Fungsi penyimpanan juga bertanggung jawab atas jaminan kredit pensiun sampai dengan jaminan tersebut dikembalikan kepada nasabah.
Fungsi penyimpanan dijalankan oleh fungsi kas. Fungsi kas dilaksanakan oleh Teller bertugas mengelola uang tunai dalam kotak uang, kemudian pada saat tutup kas harus membuat laporan harian penerimaan dan pengeluaran kas sebagai pertanggungjawaban atas uang tunai yang disetor fungsi akuntansi.
Dalam pelaksanaannya setiap fungsi telah berjalan dengan baik dan dilaksanakan oleh orang yang berbeda. Namun komputer fungsi perhitungan dan fungsi sekretariat memiliki program komputer yang sama sehingga masih ada tugas dan wewenang ganda dalam proses simulasi/perhitungan kredit  pensiun.  Proses  simulasi/perhitungan  kredit  pensiun  seharusnya menjadi tugas dan wewenang fungsi perhitungan, tetapi dalam praktiknya sering dilaksanakan oleh fungsi sekretariat.

2.Dokumen yang digunakan
Dokumen  yang  digunakan  dalam  sistem  pemberian  kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) sudah cukup baik dan digunakan sebagaimana mestinya. Sebelum dilakukan pencetakan dokumen Surat Perjanjian Kredit  (SPK)  dibuatkan  Analisa  Pinjaman  yang  berisi  hasil perhitungan kredit pensiun dan Tes Wawancara Debitur berisi hasil wawancara mengenai data diri dan data tambahan calon debitur. Kedua dokumen ini digunakan dasar pembuatan dokumen Surat Perjanjian Kredit (SPK). Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan isi dokumen SPK. Dokumen Surat Perjanjian Kredit (SPK) dibuat rangkap, ditandatangani oleh pihak bank (Sub Branch Manager dan Credit Acc. SPV) dan debitur, serta diberi materai Rp 6.000 agar dokumen tersebut memiliki kekuatan hukum. Untuk pensiunan janda/duda yang akan mengajukan kredit pensiun harus dibuatkan dokumen khusus yaitu Surat Pernyataan. Surat Pernyataan berisi pernyataan debitur pensiunan janda/duda, jika dana pensiun dihentikan karena menikah lagi bersedia melunasi sisa pinjaman kredit pensiun. Dokumen ini harus ditandatangani debitur dan diberi materai Rp 6.000 agar dokumen ini memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
Dalam pencairan pinjaman, Credit Admin Officer mencetakkan payment schedule yang digunakan sebagai arsip kantor dan Teller. Payment schedule berisi angsuran debitur per bulan ditambah bunga pinjaman yang didalamnya tertera kode transaksi untuk membuka blokir komputer Teller agar pinjaman  kredit  pensiun  dapat dicairkan.  Pada saat  mencairkan pinjaman kredit pensiun Teller harus mencetak bukti pengeluran kas. Bukti pengeluaran kas dibuat rangkap dua, yaitu asli sebagai arsip Teller dan fotokopi sebagai arsip Accounting Officer. Bukti pengeluaran kas digunakan sebagai dasar pembuatan laporan harian penerimaan dan pengeluaran kas.
Meskipun, dokumen yang digunakan dalam sistem pemberian kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) sudah cukup baik. Namun masih memiliki kekurangan yaitu tidak adanya dokumen khusus yang dibuat fungsi penyimpanan sebagai bukti penyerahan jaminan kredit pensiun. Karena dengan tidak adanya bukti penyerahan jaminan kredit pensiun pada saat jaminan kredit pensiun dikembalikan kepada debitur dimungkinkan jatuh ditangan orang yang salah.

3.Catatan Akuntansi yang digunakan
Pencatatan setiap transaksi penyaluran kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) menggunakan catatan akuntansi secara komputerisasi dan manual. Pencatatan secara komputerisasi yang pertama berupa laporan harian hasil penyaluran kredit pensiun yang dibuat oleh Credit Admin Officer melalui program komputer YR8 dengan cara menginput data pinjaman dan data diri debitur. Laporan harian hasil penyaluran kredit pensiun pada saat tutup kas dikirim melalui faximile sebagai laporan kepada kantor cabang Surakarta. Kedua, laporan harian penerimaan dan pengeluaran kas dibuat oleh Teller melalui program komputer YR1 sebagai pertanggungjawaban Teller atas uang tunai yang disetor oleh Accounting Officer. Tujuan pencatatan secara komputerisasi adalah menghindari adanya kemungkinan human error. Sedangkan pencatatan secara manual adalah pencatatan melalui buku penyaluran kredit pensiun yang berisi data pinjaman dan data diri debitur. Pencatatan secara manual pada buku penyaluran kredit pensiun dilakukan oleh Sales and Marketing Officer. Tujuan pencatatan secara manual agar dapat  dilakukan  pencocokan  antara  fungsi  sekretariat  yang  bertugas menginput pinjaman secara komputerisasi dan fungsi penyimpanan yang mencatat secara manual pada buku penyaluran kredit pensiun.

4.Jaringan Prosedur yang membentuk sistem
Jaringan prosedur yang membentuk sistem pemberian kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) sudah berjalan dengan baik dan telah menunjukkan kesesuaian antara prosedur pemberian kredit yang lazim dilakukan oleh bank pada umumnya. Prosedur pemberian kredit pensiun pada BTPN diawali dengan prosedur permohonan kredit pensiun oleh calon debitur, prosedur simulasi/perhitungan kredit pensiun, prosedur pembukaan nomor customer, prosedur verifikasi pinjaman kredit pensiun, prosedur penginputan data pinjaman, prosedur persetujuan kredit pensiun, prosedur pencairan pinjaman, dan prosedur pengarsipan dokumen kredit pensiun. Meskipun demikian, Operating SPV sebagai Satuan Pengawas Intern (SPI) belum melaksanakan tugas dan wewenangnya secara maksimal sehingga masih ada karyawan yang menunda-nunda pekerjaan. Hal ini mengakibatkan prosedur pemberian kredit pensiun berjalan lambat.

5.Persyaratan permohonan kredit pensiun
Persyaratan yang harus dipenuhi calon debitur dalam mengajukan kredit pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) dibagi  menjadi  dua  yaitu  persyaratan  umum  dan persyaratan khusus. Persyaratan umum antara lain: pensiun merupakan pensiun sendiri atau pensiun janda/duda, usia pensiun ditambah jangka waktu kredit maksimum 70 tahun, pensiunan merupakan penerima uang pensiun melalui BPTN, dan jumlah yang dapat dijadikan angsuran kredit pensiun 90% dari jumlah uang pensiun bulanan. Persyaratan khusus berupa dokumen asli dan fotokopi rangkap dua persyaratan kredit pensiun, antara lain: Kartu Registrasi Induk Pensiun (KARIP), Surat Keputusan Pensiun (SKEP), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Rekening Listrik, bukti pembayaran uang pensiun bulan sebelumnya, dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi calon debitur yang dana pensiunnya di atas Rp 1.320.000.
Persyaratan  yang  digunakan  BTPN   untuk mengikat nasabah sudah baik dan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemberian kredit pensiun. Namun masih kurangnya pemberitahuan dari pihak bank bahwa pada saat mengajukan permohonan kredit pensiun suami/istri calon debitur harus hadir, sehingga Surat Persetujuan Suami/Istri sering tidak ditandatangani suami/istri debitur dan para pensiun yang dana pensiunnya di atas Rp 1.320.000 harus menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai salah satu dokumen persyaratan kredit pensiun, sehingga proses permohonan kredit pensiun harus ditunda sampai calon debitur memiliki NPWP.
2.3Konsep Dasar Sistem
Suatu sistem adalah jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul, bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Komponen–komponen atau subsistem-subsistem dalam suatu sistem tidak dapat berdiri lepas sendiri-sendiri. Komponen–komponen atau subsistem-subsistem saling berinteraksi dan saling berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga tujuan atau sasaran sistem tersebut dapat tercapai. Suatu sistem mempunyai maksud tertentu. Ada yang menyebutkan maksud dari suatu sistem adalah untuk mencapai suatu tujuan (goal) dan ada yang menyebutkan untuk mencapai sasaran (objective). Suatu sistem pada dasarnya merupakan suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya dan prosedur-prosedur yang berkaitan yang melaksanakan dan memudahkan pelaksanaan kegiatan utama dari suatu organisasi

2.4Sistem Pendukung Keputusan
Menurut Hermawan (2007), Sistem Pendukung Keputusan (SPK), adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model . Tujuan adanya SPK, untuk mendukung pengambil keputusan memilih alternatif hasil pengolahan informasi dengan model-model pengambil keputusan serta untuk menyelesaikan masalah yang bersifat semi terstruktur dan tidak terstruktur.
SPK dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah. SPK dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan atau dioperasikan dengan mudah oleh orang yang tidak memiliki dasar kemampuan pengoperasian komputer yang tinggi dan bersifat alternatif, serta SPK dirancang dengan menekankan pada aspek kemampuan adaptasi yang tinggi

2.3.1. Konsep Dasar Sistem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan (SPK) mulai dikembangkan pada tahun 1960-an, tetapi istilah sistem pendukung keputusan itu sendiri baru muncul pada tahun 1971, yang diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Micheal S.Scott Morton, keduanya adalah profesor di MIT. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk menciptakan kerangka kerja guna mengarahkan aplikasi komputer kepada pengambilan keputusan manajemen.
Tujuan-tujuan tersebut mengacu pada tiga prinsip dasar sistem pendukung keputusan yaitu:
1.Struktur masalah
Untuk masalah yang terstruktur, penyelesaian dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus yang sesuai, sedangkan untuk masalah terstruktur tidak dapat dikomputerisasi. Sementara itu, sistem pendukung keputusan dikembangkan khususnya untuk menyelesaikan masalah yang semi-terstruktur.
2.Dukungan keputusan
Sistem pendukung keputusan tidak dimaksudkan untuk menggantikan manajer, karena komputer berada di bagian terstruktur, sementara manajer berada dibagian tak terstruktur untuk memberikan penilaian dan melakukan analisis. Manajer dan komputer bekerja sama sebagai sebuah tim pemecah masalah semi terstruktur.
3.Efektivitas keputusan
Tujuan utama dari sistem pendukung keputusan bukanlah mempersingkat waktu pengambilan keputusan, tetapi agar keputusan yang dihasilakn dapat lebih baik.

2.3.2. Manfaat Sistem Pendukung Keputusan
 Penggunaan terhadap sistem pendukung keputusan memberikan manfaat diantaranya:
1.Mampu mendukung solusi masalah yang rumit
2.Mempunyai respon yang cepat dan memungkinkan mengubah skenario masalah untuk mendapatkan solusi
3.Mampu mencoba beberapa strategi dalam konfigurasi yang berbeda-beda secara cepat
4.Memberikan pandangan baru dalam proses belajar
5.Mempunyai fasilitas komunikasi
6.Memperbaiki kendali dan performansi manajemen
7.Penghematan (dari keputusan yang keliru)
8.Keputusan yang obyektif dan konsisten
9.Meningkatkan efektifitas manajemen
10.Meningkatkan produktifitas analisis pangambilan keputusan

2.5Fmadm
Fuzzy Multiple Attribut Decision Making (FMADM) adalah suatu metode yang digunakan untuk mencari alternatif optimal dari sejumlah alternatif dengan kriteria tertentu. Inti dari FMADM adalah menentukan nilai bobot untuk setiap atribut kemudian dilanjutkan dengan proses perankingan yang akan menyeleksi alternatif yang sudah diberikan. Pada dasarnya, ada 3 pendekatan untuk mencari
nilai bobot obyektif. Masing – masing pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan. Pada pendekatan subyektif, nilai bobot ditentukan berdasarkan sub yektifitas dari para pengambil keputusan, sehingga beberapa faktor dalam proses perankingan alternatif bisa ditentukan secara bebas. Sedangkan pada pendekatan obyektif, nilai bobot dihitung secara matematis sehingga mengabaikan subyektif dari pengambil keputusan. (Kusumadewi, 2007).
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah FMADM. Antara lain (Kusumadewi, 2007).
1.Simple Additive Waigthing Method (SAW)
2.Weighted Product (WP)
3.Electre
4.Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
5.Analytic Hierarchi Proses (AHP)

2.6Metode SAW
Metode SAW (Simple Additive Weighting) sering juga dikenal istilah metode penjumlahan terbobot. Konsep dasar metode SAW adalah mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap alternatif pada semua atribut. Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada.

Keterangan:
rij  = nilai rating kinerja ternormalisasi
xij = nilai atribut yang dimiliki dari   setiap kriteria
Max xij = nilai terbesar dari setiap kriteria i
Min xij = nilai terkecil dari setiap kriteria i
benefit = jika nilai terbesar adalah terbaik
cost = jika nilai terkecil adalah terbaik
dimana rij adalah rating kinerja ternormalisasi dari alternatif Ai pada atribut Cj; i=1,2,...,m dan j=1,2,...,n. Nilai preferensi untuk setiap alternatif (Vi) diberikan sebagai:

Keterangan :
Vi  = rangking untuk setiap alternatif
wj = nilai bobot dari setiap kriteria
rij = nilai rating kinerja ternormalisasi
Nilai Vi  yang lebih besar mengindikasikan bahwa alternatif Ai lebih terpilih.

2.7Entity Relationship Diagram (ERD)
ERD (Entity Relationnship Diagram) pertama kali di deskripsikan oleh Peter Chen dalam bukunya “The Entity Relationship Model-Toward a Unifield of Data”. Dalam buku ini Chen mencoba merumuskan dasar-dasar model setelah itu dikembangkan dan dimodifikasi oleh Chen dan banyak pakar lain.
ERD (Entity Relationship Diagram) adalah pemodelan data utama yang membantu mengorganisasikan data dalam suatu proyek kedalam entitas-entitas dan menentukan hubungan antar entitas atau sejumlah notasi dan simbol untuk menggambarkan struktur dan hubungan antar data. Ada beberapa macam elemen yang umum digunakan yaitu :
Entitas/Entity adalah suatut empat atau objek untuk menyimpan data. Contoh: Entitas buku untuk menyimpan atribut mengenai buku (judul buku, kode buku, pengarang, dsb). Entity digambarkan dengan persegi panjang.
Atribut. Atribut berfungsi untuk mendeskripsikan entitas dan atribut mempunyai nilai (harga). Atribut digambarkan dengan simbol ellips.
Relasi/Relationship. Database adalah kumpulan file yang saling berkaitan. Pada model data relasi hubungan antar file direlasikan dengan kunci relasi. Relasi ini digambarkan dengan garis dalam ERD.
Cardinalitas. Terdapat beberapa pengertian key sehubungan dengan normalisasi dan ERD, antara lain :
1.Superkey adalah gugus dari sejumlah atribut entiti yang dapat digunakan untuk mengindentifikasi obyek secara unik.
2.Candidate keyadalah superkey yang jumlah atribut minimal dan dapat berdiri sendiri.
3.Primary keyadalah superkey yang dipilih oleh desainer atau administrator basis data.
Dalam kardinalitas terdapat relasi dari antar table/instansi untuk menghubungkan key-key yang telah terhubung. Relasi yang dapat terjadi ialah :
1.Satu kesatu (One to one)
Hubungan relasi satu kesatu yaitu setiap entitas pada himpunan entitas A berhubungan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas B.
2.Satu kebanyak (One to many)
Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, tetapi setiap entitas pada entitas B dapat berhubungan dengan satu entitas pada himpunan entitas A.
3.Banyak kebanyak (Many to many)
Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B.

2.8Diagram Arus Data (Data Flow Diagram)
Menurut Jogiyanto (2005) dalam bukunya yang berjudul Analisis & Desain Sistem Informasi, menjelaskan bahwa:
“Data Flow Diagram digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir atau lingkungan fisik dimana data tersebut akan disimpan. Data Flow Diagram juga digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang terstruktur”.
Menurut Ladjamudin (2005) dalam bukunya yang berjudul Analisis dan Desain Sistem Informasi, menjelaskan bahwa: “diagram aliran data merupakan model dari sistem untuk menggambarkan pembagian sistem ke modul yang lebih kecil”. Langkah-langkah di dalam membuat data flow diagram.
Menurut Sutabri, Tata (2004) dalam bukunya Analisa Sistem Informasi, dibagi menjadi 3 (tiga) tahap atau tingkat konstruksi data flow diagram, yaitu sebagai berikut:
1.Diagram konteks
Diagram ini dibuat untuk  menggambarkan  sumber   serta tujuan data yang akan diproses atau dengan kata lain diagram tersebut digunakan untuk menggambarkan sistem secara umum/global dari keseluruhan sistem yang ada.
2.Diagram nol
Diagram ini dibuat utuk menggambarkan tahapan  proses yang ada di dalam konteks, yang penjabarannya lebih terperinci.
3.Diagram detail
Diagram ini dibuat untuk menggambarkan arus data secara lebih rinci mendetail lagi dari tahapan proses yang ada di dalam diagram nol.
Berdasarkan pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa data flow diagram adalah suatu model perancangan yang menggambarkan aliran data yang diproses dalam suatu sistem.

2.9Database
Dalam arti khusus database adalah sekumpulan informasi yang diatur agar mudah dicari. Dalam arti umum database adalah sekumpulan data yang diproses dengan bantuan komputer yang memungkinkan data dapat diakses dengan mudah dan tepat, yang dapat digambarkan sebagai aktivitas dari satu atau lebih organisasi yang berelasi.

2.10Perangkat Lunak
Pada pembuatan aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Pemberian Kredit Nasabah Pensiun menggunakan Metode Simple Additive Weighting menggunakan dua software pendukung, yaitu bahasa pemograman PHP  dan MySql.

2.10.1PHP
PHP merupakan singakat dari ”Hypertext Preprocessor” adalah yaitu proses penerjemahan baris kode sumber menjadi kode mesin yang dimengerti komputer secara langsung pada saat baris kode di jalankan. PHP di sebut sebagai Server Side Programming di kerenakan seluruh kode atau skrip di jalankan di server. Hasilnyalah yang di kirim ke klien, tempat pemakai menggunakan browser (Alexander F.K.Sibero,2011).
Selain itu PHP adalah bahasa scripting yang menyatu dengan HTML dan dijalankan pada server side. Artinya semua sintaks yang kita berikan akan sepenuhnya dijalankan pada server sedangkan yang dikirimkan ke browser hanya hasilnya saja
Kelahiran PHP bermula saat Rasmus Ledorf pada tahun 1994 membuat sebuah halaman website pribadi yang tujuanya adalah untuk memperkenalkan halaman website pribadi sekaligus membangun halaman web yang dinamis. PHP pertama di perkenalkan dengan singkatan dari Personal Home Page dan di tulis menggunakan bahasa Perl (Perl Script), kemudian di tulis ulang menggunakan bahasa pemograman C CGI-BIN (Common Gateway Interface_Binary) yang di tunjukkan untuk mengembangkan halaman website yang mendukung formulir dan penyimpanan data. Pada tahun 1995 PHP tool 1.0 diruilis untuk umum, kemudian pengembangannya dilanjutkan oleh Andi Gutmans dan Zeev Suraski. Perusahaan bernama Zend kemudian melanjutkan pengembangan PHP dan merilis PHP versi terakhir pada saat ini ((Alexander F.K.Sibero,2011).
Menurut Abdul Kadir (2008) PHP merupakan bahasa pemrograman berbentuk script yang ditempatkan dalam server dan diproses di server. Hasil dari pengolahan akan dikirimkan ke klien, tempat pemakai menggunakan browser. Secara khusus, PHP dirancang untuk membentuk web dinamis. Artinya, ia dapat membentuk suatu tampilan berdasarkan permintaan terkini. Misalnya, kita bisa menampilkan isi database ke halaman web. Pada prinsipnya, PHP mempunyai fungsi yang sama dengan script seperti ASP (Actives Server Page), Cold Fusion, ataupun Perl

2.10.2.Dreamwever.
Adobe Dreamwaver adalah sebuah HTML editor professional untuk mendesain web secara visual dan mengelola situs atau halaman web, Pada Dreamwaver terdapat beberapa kemampuan bukan hanya sebagai software untuk desain web saja tetapi juga untuk menyunting kode serta pembuatan aplikasi web dengan menggunakan berbagai bahasa pemograman web, antara lain JSP,PHP,ASP dan ColdFusion (Madcoms,2011).
Adobe Dreamwaver merupakan aplikasi pengolah halaman web yang sangat popoler sekarang ini. Penggunaanya lebih banyak di bandingkan aplikasi sejenis lainnya, kelebihanya fiturnya atau ruang kerjanya yang banyak sehingga di sukai banyak orang
Menurut Lukmanul Hakim (2009) Macromedia Dreamweaver adalah sebuah HTML editor profesional untuk mendesain secara visual dan mengelola situs web maupun halaman web. Bilamana kita menyukai untuk berurusan dengan kode-kode HTML secara manual atau lebih menyukai bekerja dengan lingkungan secara visual dalam melakukan editing, Dreamweaver mambuatnya menjadi lebih mudah dengan menyediakan tool-tool yang sangat berguna dalam peningkatan kemampuan dan pengalaman dalam mendesain web.
Dreamweaver dalam hal ini digunakan untuk web desain. Dreamweaver mengikutsertakan banyak tool untuk kode-kode dalam halaman web beserta fasilitas-fasilitasnya, antara lain : Referensi HTML, CSS dan Javascript, Javascript debugger, dan editor kode (tampilan kode dan Code inspector) yang mengizinkan penggunanya untuk mengedit kode Javascript, XML, dan dokumen teks lain secara langsung dalam Dreamweaver. Teknologi Dreamweaver Roundtrip HTML mampu mengimpor dokumen HTML tanpa perlu memformat ulang kode tersebut dan kita dapat menggunakan Dreamweaver pula untuk membersihkan dan memformat ulang HTML bila pengguna menginginkannya. Selain itu Dreamweaver juga dilengkapi kemampuan manajemen situs, yang memudahkan pengguna dalam mengelola keseluruhan elemen yang ada dalam situs. Juga dapat melakukan evaluasi situs dengan melakukan pengecekan Broken link, kompatibilitas browser, maupun perkiraan waktu download halaman web.

2.10.3.MySQL
MySQL adalah sebuah perangkat lunak system manajemen basis data SQL (DBMS) yang multithread, dan multi-user. MySQL adalah implementasi dari system manajemen basisdata relasional (RDBMS). MySQL dibuah oleh TcX dan telah dipercaya mengelola system dengan 40 buah Database berisi 10.000 tabel dan 500 di antaranya memiliki 7 juta baris.
MySQL dapat digunakan secara berdiri sendiri maupun di lekatkan pada bahasa pemograman seperti C, Visual Basic, Delphi dan lain-lain.



BAB III
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM

3.1Analisis Sistem
Analisa sistem adalah penguraian dari suatu informasi yang utuh kedalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan, kesempatan, hambatan yang terjadi dan kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan. Tahap analisa sistem dalam penelitian ini meliputi identifikasi masalah, analisa masalah, analisa kebutuhan.

3.1.1.Identifikasi Masalah
Dalam tahap ini penulis mencoba untuk mengidentifikasikan permasalahan yang ada. Tahap ini merupakan tahapan awal pada penyusunan penelitian ini. Hasil dari identifikasi inilah yang menjadi latar belakang dalam melakukan perumusan masalah yang akan menjadi objek penelitian. Masalah yang diidentifikasi adalah bagaimana membuat aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) menggunakan Simple Additive Weighting (SAW)”.

3.1.2.Analisa Masalah
Berdasarkan hasil penelitian, maka permasalahan yang terjadi adalah keterbatasannya daya ingat menusia sehingga sering terjadi kesalahan dalam menentukan layak atau tidak layak dalam pemberian kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN).

3.1.3.Analisa Kebutuhan
Analisa kebutuhan dilakukan untuk mengetahui kebutuhan fungsional dalam perancangan aplikasi.
1.Kebutuhan Software dan Hardware
Software yang digunakan dalam perancangan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Pensiun sebagai berikut:
a.Sistem Operasi Windows 7 Unlimited
b.Macromedia Dreamweaver 8
c.Xampp 1.7.0
d.Hardisk 500 GB
2.Kebutuhan Input
Input yang dibutuhkan dalam aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) menggunakan Simple Additive Weighting (SAW)”.adalah sebagai berikut:
a.Data Pensiunan
b.Data Kriteria
c.Data Parameter
d.Data Ranting Kecocokan
3.Kebutuhn Output
a.Hasil Perangkingan

3.2.Analisa Metode Simple Additive Weighting (SAW)
3.2.1.Analisa Kriteria
Dalam melakukan perhitungan metode Simple Additive Weighting (SAW), terlebih dahulu menentukan kriteria yang dibutuhkan untuk menentukan Kelayakan Pemberian Kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN). Adapun kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.Usia (Benefit)
2.Kelengkapan Berkas (Benefit)
3.Dana Pensiun (Benefit)
4.Jumlah Pinjaman (Benefit)

Berdasarkan kriteria diatas maka akan digunakan parameter untuk menentukan bobot dari kriteria. Bobot parameter untuk setiap kriteria adalah sebagai berikut:

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kelayakan Pemberian Kredit Pensiun pada PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN) menggunakan Simple Additive Weighting (SAW)"

Post a Comment